Beli Rumah atau Menikah Dulu, atau Traveling?

Dulu, urutan hidup terasa seperti jalan yang sudah diberi marka. Sekolah, bekerja, menikah, punya rumah, lalu membesarkan keluarga. Faktanya, tidak semua orang menjalaninya persis demikian. Namun, jalurnya cukup mapan untuk diwariskan sebagai nasihat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hari ini, beli rumah atau menikah dulu, atau bahkan traveling, markanya tak lagi sama.

Hari ini, jalannya bercabang. Ada yang membeli rumah sebelum menikah. Ada yang menikah lalu mengontrak. Sebagian tetap tinggal bersama orang tua sambil menabung. Yang lain mengejar karier, berpindah kota, atau memilih melihat sedikit dunia sebelum menetap.

Maka, pertanyaan beli rumah atau menikah dulu terdengar semakin relevan. Hanya saja, mungkin pertanyaannya tidak sesederhana memilih mana yang harus berada di urutan pertama.

Rumah Masih Diinginkan

Media sosial dapat memberi kesan bahwa generasi muda lebih tertarik mengumpulkan pengalaman ketimbang properti. Lebih pilih traveling, nonton konser, berburu kuliner, dan berbagai pengalaman hidup jauh lebih mudah terlihat daripada menumpuk saldo tabungan untuk uang muka beli rumah.

Namun, ada data yang mengusik stereotip itu.

Indonesia Gen Z Report 2024 menemukan bahwa di antara responden berusia 21–26 tahun, 29% menempatkan membeli rumah sebagai tujuan finansial, sementara 6% memilih traveling. Survei utamanya melibatkan 602 responden Gen Z di 10 kota dan wilayah aglomerasi Indonesia. Karena sampelnya berfokus pada wilayah tersebut, temuan ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran responden survei, bukan sebagai representasi seluruh anak muda Indonesia.

Tetapi setidaknya ada sesuatu yang menarik: rumah ternyata belum tentu tersingkir dari checklist keinginan.

Barangkali yang berubah bukan keinginan memiliki rumah, melainkan tempat rumah berada dalam antrean kehidupan.

Menikah Dulu, Lalu Kontrak Rumah

Pertanyaan beli rumah atau menikah dulu sering membawa kita seolah hanya mempunyai dua pintu. Padahal, di antara keduanya terdapat banyak ruang.

Pasangan dapat menikah, menyewa rumah kecil dekat tempat kerja, lalu menabung sambil menjalani kehidupan bersama. Dari sana, pertanyaan tentang rumah menjadi lebih konkret: berapa kamar yang benar-benar dibutuhkan, di kota mana ingin menetap, seberapa penting jarak ke orang tua, hingga lingkungan seperti apa yang ingin ditinggali.

Mengontrak memang tidak menghasilkan kepemilikan atas rumah. Namun, dalam fase tertentu, penyewa membeli sesuatu yang tidak tercetak pada sertifikat: fleksibilitas.

Data BPS 2025 menunjukkan 8,02% rumah tangga perkotaan menempati rumah kontrak/sewa. Di DKI Jakarta, porsinya mencapai 21,20%.

Kontrak, dengan demikian, tidak selalu berarti seseorang terlambat membeli rumah. Kadang ia memang sebuah persinggahan. Kadang pula ia sengaja dipilih untuk memberi waktu kepada kehidupan memperjelas kebutuhannya.

Menabung, Baru Membeli

Urutannya dapat dibalik lagi.

Seseorang bisa tinggal bersama orang tua lebih lama agar tabungan uang muka bertambah. Orang lain justru membeli rumah sebelum menikah karena pendapatan telah memadai, lokasi, dan kesempatan dirasa telah bertemu pada waktu yang tepat.

Dalam editorial “Rumah Pertama: Dulu Tujuan. Kini, Pilihan?”, AyoCari pernah mempertanyakan anggapan bahwa rumah harus menjadi garis finish yang sama bagi setiap orang. Pertanyaan beli rumah atau menikah dulu membawa persoalan itu selangkah lebih jauh: jika rumah tetap menjadi tujuan, kapan ia sebaiknya datang?

Jawabannya tidak otomatis “secepat mungkin”.

Rumah yang dibeli hari ini dapat memberikan kepastian tempat tinggal, tetapi sekaligus mengikat lokasi, cicilan, biaya perawatan, dan sebagian keputusan finansial di masa depan. Menunggu juga tidak gratis. Harga rumah dapat berubah, biaya sewa terus berjalan, sementara kondisi pekerjaan dan kehidupan tidak selalu pasti.

Menunda mempunyai harga. Mendahulukan pun demikian.

Traveling Punya Waktu

Lalu ada traveling.

Traveling mudah dijadikan antagonis rumah. Tiket pesawat dipandang sebagai uang muka yang terbang; biaya hotel dianggap tabungan yang menguap. Padahal, kehidupan tidak selalu bekerja sesederhana tabel pengeluaran.

Ada pengalaman yang dapat ditunda lima tahun tanpa banyak kehilangan makna. Namun, jangan juga delay kelamaan jika memang memungkinkan. Sebab, batas usia siapa yang tahu. Ketuaan juga bakal menghalangi kebebasan melihat dunia, kendati tabungan untuk itu telah tersedia.

Ada pula kesempatan yang menjadi lebih sulit ketika pekerjaan semakin menuntut eksistensi, orang tua membutuhkan perhatian, anak lahir, atau kondisi tubuh tak lagi seringan dahulu.

Sebaliknya, “menikmati hidup sekarang” juga dapat menjadi alasan yang terus diperpanjang. Tujuan jangka panjang bergeser setahun, kemudian setahun lagi.

Rumah mempunyai harga. Pengalaman pun demikian.

Yang jarang kita hitung adalah harga dari urutannya.

Kita Membayar dengan Waktu

Kalkulator kehidupan rupanya mempunyai satuan yang tidak dimiliki kalkulator bank.

Dalam editorial “Rumah Murah, Dibayar Mahal oleh Waktu?”, AyoCari membahas bagaimana harga hunian tidak berhenti pada angka yang dibayarkan. Rumah yang lebih murah tetapi jauh dari aktivitas sehari-hari dapat meminta pembayaran lain berupa jam perjalanan.

Urutan hidup bekerja dengan logika serupa.

Mendahulukan rumah dapat berarti menunda perjalanan. Menikah lebih dahulu mungkin berarti memulai kehidupan dari rumah kontrakan. Menabung lebih lama dapat memperbesar uang muka, tetapi menunda kemandirian tempat tinggal. Mengejar karier dapat memperkuat kemampuan finansial, sekaligus membuat seseorang belum tahu kota mana yang kelak disebut rumah.

Setiap urutan hidup mempunyai harga.

Bukan selalu rupiah. Kadang kesempatan. Kadang fleksibilitas. Kadang waktu.

Lihat Jendela Kesempatan

Karena itu, mungkin beli rumah atau menikah dulu bukan pertanyaan yang membutuhkan satu jawaban tunggal untuk semua orang.

Cobalah melihat jendela kesempatan.

Apa yang kehilangan nilai bila ditunda? Apa yang justru menjadi lebih mudah jika menunggu? Dan, yang lebih penting, apakah kesempatan yang kita lewatkan hari ini masih tersedia ketika kelak kita kembali mencarinya?

Rumah tertentu dapat terjual. Penghasilan bisa meningkat. Karier dapat membawa seseorang ke kota lain. Orang tua bertambah usia. Kesempatan bepergian mungkin datang kembali. Pasangan dan anak bahkan dapat mengubah definisi tentang rumah yang sebelumnya dianggap ideal.

Tidak semua keputusan mempunyai tanggal kadaluwarsa yang sama.

Bukan Tujuannya yang Berubah

Di sinilah barangkali ada sesuatu yang luput ketika generasi sekarang dianggap tidak lagi mengikuti jalan generasi sebelumnya.

Mungkin mereka tidak sedang membuang tujuan-tujuan lama.

Rumah masih diinginkan. Pernikahan tetap direncanakan. Stabilitas tetap dicari. Pengalaman hidup pun ingin dinikmati.

Yang berubah mungkin bukan tujuannya, melainkan urutannya.

Generasi sebelumnya banyak menerima sebuah susunan hidup yang relatif mapan. Generasi hari ini mempunyai lebih banyak kemungkinan untuk menyusunnya kembali: rumah dahulu, menikah dahulu, kontrak dahulu, menabung dahulu, mengejar karier, atau melihat sedikit dunia sebelum menetap.

Kebebasan memilih urutan itu berharga. Namun, kebebasan tidak membuat waktu berhenti menghitung.

Maka, ketika bertanya beli rumah atau menikah dulu, barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan apa yang harus datang pertama.

Melainkan, apa yang rela kita biarkan menunggu ketika sesuatu yang lain kita dahulukan. Sebab hidup memang tidak harus mengikuti urutan lama. Tetapi waktu, seperti biasa, tetap berjalan.

Tentang Editorial AyoCari

Editorial AyoCari adalah ruang analisis dan refleksi kritis tentang rumah, arsitektur, teknologi, serta perubahan gaya hidup di Indonesia. Berbasis data dan perspektif, kami mengajak pembaca memahami bagaimana rumah dirancang, dimiliki, dan dihuni—hari ini hingga masa depan.

Jelajahi seluruh Editorial AyoCari untuk membaca perspektif lainnya.

Calvyn Toar
Calvyn Toar

Calvyn Toar adalah Head of SEO yang telah berkecimpung di dunia website dan SEO sejak 2016.
Bersama karibnya, mendirikan ManadoBaswara.com dan sejumlah situs lain.
Calvyn berfokus pada pengembangan strategi SEO, topical authority, dan konten yang mengutamakan
kebutuhan pengguna, akurasi informasi, serta praktik SEO yang powerful.
Calvyn dapat dihubungi melalui [email protected].
(Memento Vivere. Memento Mori).