Tanaman penyerap kelembapan ruangan kerap diposisikan sebagai solusi alami untuk kamar yang pengap, lembap, atau mudah berjamur. Klaimnya terdengar masuk akal: tanaman membutuhkan air, beberapa spesies bahkan mampu mengambil air melalui permukaan daun. Namun, apakah pot tanaman benar-benar dapat menurunkan kelembapan udara di sebuah ruangan?
Jawaban pendeknya: jangan mengandalkannya sebagai pengganti pengendalian kelembapan. Sejumlah tanaman memang dapat menyerap air melalui daun, tetapi tanaman juga melakukan transpirasi, yaitu melepaskan air dalam bentuk uap melalui permukaan daun. Riset skala ruangan justru menunjukkan tanaman dapat menaikkan kelembapan relatif, bukan menurunkannya.
Memilih tanaman penyerap kelembapan ruangan perlu dimulai dari cara kerjanya, bukan daftar nama tanaman. Di sinilah perbedaan antara tanaman yang menyukai udara lembap dan tanaman yang benar-benar mampu membuat ruangan lebih kering menjadi penting.
Benarkah Tanaman Menyerap Kelembapan?

Istilah tanaman penyerap kelembapan ruangan menyederhanakan proses biologis yang jauh lebih rumit. Beberapa tumbuhan, terutama epifit, memiliki kemampuan foliar water uptake atau penyerapan air melalui daun. Penelitian pada Tillandsia ionantha, misalnya, menunjukkan daun dapat mengambil air dengan bantuan trikoma epidermis.
Tetapi kemampuan daun mengambil air tidak otomatis berarti tanaman mengurangi kadar uap air satu ruangan secara bersih. Air juga masuk melalui akar, menguap dari media tanam, kemudian dilepas tanaman ke udara melalui transpirasi. Keseluruhan pertukaran air inilah yang harus dilihat ketika membahas efek tanaman terhadap kelembapan rumah.
Artinya, label tanaman penyerap kelembapan ruangan tidak sama dengan dehumidifier biologis. Pertanyaan yang lebih tepat bukan “apakah tanaman dapat menyerap air?”, melainkan “setelah seluruh siklus airnya dihitung, apakah kelembapan relatif ruangan turun?”
Hasil Riset Berkata Sebaliknya
Di sinilah klaim populer tentang tanaman penyerap kelembapan ruangan mulai goyah. Studi PLOS ONE 2024 menguji pakis Boston (Nephrolepis exaltata) di tiga ruang kantor. Median kelembapan relatif tercatat 29,1% tanpa tanaman, 38,9% dengan lima tanaman, dan 49,2% dengan 18 tanaman.
Temuan tersebut masuk akal secara fisiologis: tanaman bertranspirasi dan media tanam juga dapat menyumbangkan uap air. Studi lain pada kantor berventilasi alami menemukan Ficus dan Epipremnum menghasilkan tambahan kelembapan melalui evapotranspirasi. Pertukaran udara ruangan bahkan memberi pengaruh lebih besar terhadap kelembapan relatif daripada tanaman.
Bukti yang lebih luas memperkuat gambaran itu. Tinjauan sistematis 2025 terhadap 37 studi empiris menyimpulkan bahwa tanaman dalam ruang terutama bertindak sebagai sumber kelembapan. Sebagian besar penelitian melaporkan kenaikan kelembapan relatif; hanya empat studi menemukan penurunan kecil yang bersifat kontekstual. Bahkan, tidak satu pun studi menunjukkan tanaman menurunkan kelembapan relatif melebihi kelembapan yang dilepaskannya melalui evapotranspirasi.
Dengan kata lain, tanaman penyerap kelembapan ruangan perlu dinilai dari efek bersih terhadap udara, bukan hanya kemampuan biologis daunnya mengambil air.
Jadi, jika tujuan membeli tanaman penyerap kelembapan ruangan adalah menurunkan kelembapan relatif yang terlalu tinggi, bukti saat ini tidak cukup untuk menjadikannya metode utama.
Lima Tanaman Penyerap Kelembapan Ruang?

Lalu bagaimana dengan nama-nama yang sering muncul ketika mencari tanaman penyerap kelembapan ruangan? Pakis Boston, sirih gading, peace lily, lidah mertua, dan Tillandsia tetap menarik sebagai tanaman dalam ruang—tetapi alasannya perlu diluruskan.
Pakis Boston. Tanaman ini menyukai kondisi lembap, tetapi “menyukai kelembapan” berbeda dengan “mengeringkan ruangan”. Studi skala kantor tadi justru memakai pakis Boston dan menemukan kelembapan relatif meningkat seiring bertambahnya jumlah tanaman.
Sirih gading. Epipremnum aureum mudah dirawat dan populer sebagai tanaman interior. Namun, penelitian pada lingkungan kantor menunjukkan Epipremnum juga melepaskan kelembapan melalui evapotranspirasi. Karena itu, menyebutnya sebagai tanaman penyerap kelembapan ruangan yang dapat menggantikan dehumidifier merupakan klaim yang terlalu jauh.
Peace lily. Spathiphyllum sering muncul dalam daftar tanaman untuk kamar lembap. Ia dapat menjadi pilihan dekoratif untuk kondisi cahaya tertentu, tetapi belum ada dasar kuat untuk menganggap satu atau beberapa pot akan menyelesaikan kelembapan relatif yang tinggi pada ruangan.
Lidah mertua. Sansevieria memiliki laju evapotranspirasi yang relatif rendah dibanding tanaman berdaun lebat dalam sebuah studi ruang terkontrol. Ini membuat kontribusi kelembapannya bisa lebih kecil, tetapi “menambah lebih sedikit” tetap tidak identik dengan “menyerap kelembapan berlebih”.
Tillandsia. Kelompok tanaman udara ini paling menarik secara mekanisme karena beberapa spesies mampu mengambil air lewat daun. Meski demikian, kemampuan fisiologis tersebut belum membuktikan bahwa Tillandsia bekerja sebagai tanaman penyerap kelembapan ruangan pada skala rumah.
Bagi pemilik rumah, tanaman penyerap kelembapan ruangan sebaiknya dipilih sebagai tanaman yang sesuai dengan kondisi ruang, bukan sebagai perangkat pengering udara.
Kelima contoh itu memperlihatkan mengapa daftar tanaman penyerap kelembapan ruangan perlu dibaca dengan hati-hati. Tanaman dapat cocok hidup di lingkungan lembap tanpa otomatis menjadi alat pengontrol kelembapan.
Ukur Sebelum Menambah Tanaman
Sebelum menaruh tanaman penyerap kelembapan ruangan di kamar mandi, kamar tidur, atau sudut yang terasa pengap, ukur dulu kelembapan relatif atau relative humidity (RH).
Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 menggunakan batas 40% dan 60% dalam ketentuan pengendalian kelembapan udara: di bawah 40% dinyatakan kering, sedangkan di atas 60% dinyatakan lembap. Sementara itu, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyarankan kelembapan relatif dalam ruang dijaga di bawah 60%, idealnya 30–50% bila memungkinkan.
Gunakan higrometer pada posisi yang representatif dan baca polanya beberapa kali, bukan satu angka sesaat. Panduan AyoCari tentang cara mengukur kelembapan ruangan dapat digunakan untuk membedakan kondisi umum ruangan dengan titik masalah.
Jika RH berada dalam rentang wajar dan tujuan anda hanya menghadirkan tanaman dalam ruang, pilih berdasarkan cahaya, ruang, kebutuhan penyiraman, dan perawatan. Dalam situasi ini, mencari tanaman penyerap kelembapan ruangan bukan masalah selama ekspektasinya tepat.
Saat RH Terus Tinggi
Situasinya berbeda bila higrometer terus menunjukkan kelembapan tinggi, muncul kondensasi, bau apek, atau jamur. Pada tahap ini, tanaman penyerap kelembapan ruangan dapat mengalihkan perhatian dari sumber masalah sebenarnya.
Cari sumber air terlebih dahulu: kebocoran, rembesan, aktivitas memasak dan mandi, pengeringan pakaian di dalam rumah, ventilasi yang buruk, hingga kondensasi pada permukaan dingin. EPA menempatkan pengendalian sumber air dan kelembapan sebagai prinsip utama dalam mengendalikan masalah lembap dan jamur.
Setelah sumbernya ditemukan, pilih intervensi sesuai masalah. Tingkatkan pembuangan udara lembap dengan exhaust fan bila tepat, perbaiki kebocoran, manfaatkan AC secara benar, atau gunakan dehumidifier bila beban kelembapan memang memerlukannya. Langkah diagnosis dan tindakannya dibahas lebih jauh dalam panduan cara menurunkan kelembapan ruangan dan fungsi serta cara kerja dehumidifier.
Di sinilah batas praktis tanaman penyerap kelembapan ruangan menjadi jelas: tanaman adalah elemen hidup dalam ruangan, sedangkan kelembapan berlebih adalah persoalan keseimbangan uap air, ventilasi, temperatur, dan sumber air.
Uji dengan Dua Higrometer

Ada cara sederhana untuk menguji klaim tanaman penyerap kelembapan ruangan di rumah sendiri. Jangan menilai dari sensasi udara atau berkurangnya bau apek. Gunakan data.
Letakkan higrometer pada posisi representatif dan catat RH pada jam yang sama selama beberapa hari sebelum tanaman ditempatkan. Setelah itu, tambahkan tanaman tanpa sengaja mengubah variabel besar lain—misalnya durasi AC, bukaan jendela, atau jadwal mandi—lalu bandingkan polanya selama beberapa hari berikutnya.
Untuk pengujian yang lebih tajam, gunakan dua sensor: satu dekat kelompok tanaman dan satu lagi lebih jauh pada ruang yang sama. Perbedaan pembacaan dapat membantu melihat apakah perubahan hanya terjadi pada mikroklimat di sekitar tanaman atau cukup besar untuk terbaca pada ruangan.
Ekspektasi terhadap tanaman penyerap kelembapan ruangan dengan demikian dapat diuji menggunakan angka, bukan hanya kesan bahwa udara terasa lebih nyaman.
Ini memang bukan eksperimen laboratorium. Namun, pendekatan tersebut jauh lebih informatif daripada menganggap tanaman penyerap kelembapan ruangan bekerja hanya karena tanaman tampak subur.
Jika RH justru naik setelah tanaman bertambah, hasil itu juga berguna. Kurangi jumlah pot atau penyiraman berlebihan, periksa media yang terus basah, lalu ukur kembali. Dengan begitu, tanaman penyerap kelembapan ruangan berubah dari klaim dekoratif menjadi hipotesis yang dapat diuji.
Tanaman Bukan Dehumidifier
Tanaman tetap layak hadir di rumah untuk estetika dan kenyamanan visual. Beberapa spesies mempunyai kemampuan menarik untuk mengambil air melalui daun, dan jenis dengan evapotranspirasi rendah dapat dipilih ketika anda tidak ingin banyak menambah uap air. Namun, bukti ilmiah saat ini tidak mendukung tanaman penyerap kelembapan ruangan sebagai pengganti ventilasi, perbaikan sumber lembap, AC, atau dehumidifier.
Jika rumah terasa lembap, jangan mulai dengan membeli pot baru. Mulailah dari higrometer, cari sumber air, lalu tentukan tindakan berdasarkan hasil pengukuran. Dengan cara itu, tanaman penyerap kelembapan ruangan tetap menjadi bagian indah dari rumah—tanpa dibebani pekerjaan yang sebenarnya harus diselesaikan oleh sistem rumah.








